MERINTIS BISNIS INDONESIA-MAROKO BERBASIS DAKWAH

ASPRINDO Jakarta : Pada tanggal 27 Juli 2018, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ASPRINDO melakukan kunjungan kepada Kedutaan Besar Kerajaan Maroko di Jalan Denpasar Raya BI-A No.13 Kav 1-Kuningan Jakarta-Selatan. Mengawali kunjungan, K.H Muhyidin Junaidi, Dewan Pembina ASPRINDO bertindak sebagai juru bicara dan menyampaikan terima kasih kepada yang mulia Duta Besar Kerajaan Maroko, yang telah bersedia Tim ASPRINDO. ASPRINDO baru terbentuk tanggal 28 Februari 2018 dan dideklarasikan pada tanggal 4 Mei 2018 yang lalu oleh para pengusaha pribumi.

Jose Rizal selaku Ketua Umum ASPRINDO, menjelaskan bahwa Visi ASPRINDO adalah “menjadi pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia yang mandiri, sejahtera, adil dan produktif guna membangun daya saing dalam dunia usaha serta menjadi tuan rumah di negeri sendiri”.

“Pada tahap awal, ASPRINDO menetapkan “Panca Program Unggulan” yaitu : membangun Perkampungan Industri Kecil; mendukung Program Perumahan Fasillitas Likuiditas Program Perumahan (FLPP) bagi Masyarakat yang Penghasilan Rendah (MBR); Pengembangan Inovasi Perdagangan E-Commerce dan Marketplace Berbasis Produk Lokal; Pendirian The ASPRINDO Trading House (ATH) sekaligus sebagai Co-working Space bagi perusahaan anggota ASPRINDO; dan kelima, pengembangan Bisnis Minyak, Mineral dan Energi” Ujar Jose Rizal.

Kedepan, “ terdapat 4 program unggulan yang akan dikembangkan oleh ASPRINDO, yaitu pertama, membangun sektor pertanian/agribisnis; kedua membangun sektor maritim yang dapat menjadi senjata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi; ketiga, membangun sektor Industri Pariwisata ,yang ini, sektor pariwisata menjadi salah satu bidang yang dibidik dalam industrialisasi oleh pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional; dan keempat membangun Ekonomi Kreatif yang merupakan Pertumbuhan ekonomi berbasis potensi local dan membantu para pengusaha pribumi”.

Terkait dengan potensi bisnis Indonesia-Maroko, Jose Rizal memaparkan bahwa “Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dan memiliki sekitar 17.000 pulau,yang diatasnya dapat dijadikan lahan pertanian, perkebunan dan perikanan dan yang tidak terbatas potrensinya. Sementara itu, didalam perut bumi mengandung sejumlah pertambangan mineral logam mulia dan minyak gas bumi.

Disamping itu, Indonesia memiliki pengalaman dibidang kontruksi termasuk didalamnya bidang perumahan. Produk Indonsia berupa hortikultura, rempah-rempah, minyak goreng , manufaktur, perikanan dan hasil olahannya serta produk lainnya. Indonesia, memiliki potensi wisata yang tersebar diwilayah yang indah, dan potensial dan menjadi lahan kerjasasama bisnis antara Kerajaan Maroko dan Indonesia” .

Mr.Oudia Benabdellah, Duta Besar dan Kuasa Penuh Kerajaan Maroko, menyampaikan apreasi atas kunjungan Tim DPP ASPRINDO.”Letak geografis Kerajaan Maroko sangat stategis dan menjadi perlintasan antara Eropa, Afrika dan Timur Tengah, sehingga terdapat pencampuran antara kebudayaan yang sangat kaya” Ujar Duta Besar “Namun jarak tidak perlu jadi hambatan dalam melakukan kerjasama antara Indonesia dan Maroko yang sudah terlambat ini”.

Menurut data dari berbagai sumber, ditemukan data bahwa GDP (Gross Domestic Product) Kerajaan Maroko adalah USD 109,4 Milyar (Th 2017), GDP Perkapita sebesar USD 3.292.40 (Tahun 2017), sedangkan pertumbuhan ekonominya mencapai 2,9 0% (tahun 2017). Produk unggulan Kerajaan Maroko adalah fosfat,bijih beji, mangan, timah,kapur, pertanian dan garam. Menurut data Kemendag RI, export utama RI ke Maroko berupa kopi, elektrik,rempah-rempah, minyak mentah dan tektil. Sementara itu, import Kerajaan Maroko ke Indonesia berupa fosfat dan asam fosfat, pertanian dan peralatan medis.

Secara khusus, Mr Benabdellah menginformasikan bahwa telah terdapat beberapa prakarsa yang telah dilakukan antara lain pada 24-28 Juni Mendag R.I, Mr. Lukita memimpin secara langsung rangkaian misi dagang ke Tunisia dan Maroko, bersamaan dengan ajang Fes Meknes Economic Forum (FMEF) di kota Fez. Selanjutnya, pada 13 Februari 2018, Wamenlu R.I A.M. Fachir melakukan pertemuan bilateral dengan Wamenlu Maroko Mpunia Boucetta. Pertemuan ini bertujuan membahas berbagai kesepakatan kedua negara untuk meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan, pasalnya volume perdagangan antar kedua semakin menurun yaitu pada ada tahun 2015 nilai perdagangan Indonesia dan Maroko tercatat sebesar 214,32 juta dolar AS.

Kemudian tahun 2016, menurun menjadi 157,94 juta dolar AS. Dan, pada tahun 2017 kembali menurun menjadi 154,80 juta dolar AS. Dalam kunjungan yang hangat, Duta Besar Maroko menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tim ASPRINDO terkait dengan keinginan untuk melakukan kerjasama bisnis antara Kerajaan Maroko dengan Indonesia. Maroko sebagai pintu masuk ke Afrika dan juga Eropa memiliki Industri Pariwisata yang menggembirakan, tiap tahun turis manegara ke Maroko sebanyak 14 Juta/orang atau hampir sepertiga dari penduduk Kerajaan Maroko. Mr.Benabdellah sekalilagi menyatakan “Kerajaan Maroko dan Indonesia sudah banyak kehilangan waktu dalam kontek kerjasama bisnis”.

Selanjutnya, menanggapi, untuk adanya MOU antara Bussiness to Business” bisa saja dilakukan,diawali dengan kunjungan ke Kerajaan Maroko termasuk didalamnnya mendalami industri pariwisata yang dikaitkan dengan produk kerajinan tangan dari UMKM” ujar nya menutup penjelasannya. (J.Rizal/Zulkarnain)

Tags:

KOMENTAR

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>